Powered By Blogger

Rabu, 16 Maret 2011

Thypoid


BAB I
TEORI PENYAKIT


a)      Definisi Penyakit
Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan. Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa.
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Thypi, Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. Typhoid disebut juga paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis. Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. Penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Menurut keterangan dr. Arlin Algerina, SpA, dari RS Internasional Bintaro, Di Indonesia, diperkirakan antara 800 - 100.000 orang terkena penyakit tifus atau demam tifoid sepanjang tahun. Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang, peningkatan kasus saat ini terjadi pada usia dibawah 5 tahun.

b)     Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh jenis salmonella tertentu yaitu s. Typhi, s. Paratyphi A, dan S. Paratyphi B dan kadang-kadang jenis salmonella yang lain. Ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun. Demam yang disebabkan oleh s. Typhi cendrung untuk menjadi lebih berat daripada bentuk infeksi salmonella yang lain.
Salmonella merupakan bakteri batang gram negatif yang bersifat motil, tidak membentuk spora, dan tidak berkapsul. Kebanyakkan strain meragikan glukosa, manosa dan manitol untuk menghasilkan asam dan gas, tetapi tidak meragikan laktosa dan sukrosa. Organisme salmonella tumbuh secara aerob dan mampu tumbuh secara anaerob fakultatif. Kebanyakan spesies resistent terhadap agen fisik namun dapat dibunuh dengan pemanasan sampai 54,4º C (130º F) selama 1 jam atau 60 º C (140 º F) selama 15 menit. Salmonella tetap dapat hidup pada suhu ruang dan suhu yang rendah selama beberapa hari dan dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu dalam sampah, bahan makannan kering, agfen farmakeutika an bahan tinja. Salmonella memiliki antigen somatik O dan antigen flagella HH. Antigen O adlah komponen lipopolisakarida dinding sel yang stabil terhadap panas sedangkan antigen H adalah protein labil panas.

c)      Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu. Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

d)     Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala pada demam tipoid timbul secara bertahap dalam waktu 8 – 14 hari setelah terinfeksi. Gejala bisa berupa :
·      demam, seringkali tinggi ( 39 atau 40 C)
·      sakit kepala
·      lemah dan lelah
·      sakit tenggorokan
·      nyeri perut
·      diare (terutama anak-anak) atau konstipasi / sembelit (terutama orang dewasa)
·      memasuki minggu kedua, pada penderita bisa timbul bercak kecil kemerahan di bagian bawah dada atau bagian atas perut, yang biasanya hilang dalam 3 – 4 hari.
Penderita demam tifoid mulai demam rendah pada malam hari, hilang esoknya, terulang lagi malamnya, menjadi makin hari makin tinggi. Mulainya malam saja, kemudian siang juga. Pola demam semakin hari semakin naik, seperti anak tangga. Demam Tifoid tidak pernah mulai dengan demam tinggi pada hari pertama sampai ketiga.
Pada penderita yang tidak menerima pengobatan, penderita akan memasuki tahap kedua dimana penderita akan menjadi semakin sakit, demam tinggi yang konstan, diare dan konstipasi. Pada minggu ketiga, penderita akan semakin lemah. Komplikasi yang membahayakan jiwa biasanya terjadi pada waktu ini. Perbaikan akan terjadi secara perlahan pada minggu ke empat. Demam menurun secara bertahap dan suhu penderita kembali normal pada minggu atau 10 hari berikutnya. Tetapi gejala dapat timbul kembali selama 2 minggu sesudah demam menghilang (10% kasus yang tidak diobati).
Demam paratifoid, yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Paratyphi, menyebabkan gejala yang serupa, hanya lebih ringan dan penderita bisa sembuh lebih cepat. Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan sempurna, tetapi bisa terjadi komplikasi terutama bila tidak diobati atau pengobatan terlambat, berupa :
·      Perdarahan usus (2% penderita)
·      Perforasi usus (1 – 2% penderita) yang menyebabkan nyeri perut karena isi usus menginfeksi rongga perut (peritonitis)
·      Pneumonia, biasanya jika terjadi infeksi pnemokokus meskipun bakteri tifoid juga bisa menyebabkan pneumonia)
·      Infeksi kandung kemih dan hati
·      Infeksi darah (bakteremia) yang kadang menyebabkan infeksi organ tubuh lainnya
·      Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
·      Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
Bahkan setelah pengobatan dengan antibiotika, sejumlah kecil orang yang sembuh dari demam tifoid terus membawa bakteri dalam saluran pencernaan mereka selama bertahun-tahun. Orang seperti ini disebut “typhoid carriers”, menyebarkan bakteri melalui feses dan bisa menginfeksi orang lain, walaupun mereka tidak menampakkan gejala penyakit demam tifoid. Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba, Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.


e)      Penanganan
Tujuan perawatan dan pengobatan demam tifoid anak adalah meniadakan invasi kuman dan mempercepat pembasmian kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, mencegah relaps dan mempercepat penyembuhan. Pengobatan terdiri dari antimikroba yang tepat yaitu : Kloramfenikol. Perawatan biasanya bersifat simptomatis istrahat dan dietetik. Tirah baring sempurna terutama pada fase akut. Masukan cairan dan kalori perlu diperhatikan. Anak baring terus di tempat tidur dan letak baring harus sering diubah-ubah. Lamanya sampai 5-7 hari bebas demam dan dilanjutkan mobilisasi bertahap yaitu : hari I duduk 2 x 15 menit, hari II duduk 2 x 30 menit, hari III jalan, hari IV pulang. Dahulu dianjurkan semua makanan saring, sekarang semua jenis makanan pada prinsipnya lunak, mudah dicerna, mengandung cukup cairan , kalori, serat, tinggi protein dan vitamin, tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas. Makanan saring / lunak diberikan selama istirahat mutlak kemudian dikembalikan ke makanan bentuk semula secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari I makanan lunak, hari II makanan lunak, hari III makanan biasa, dan seterusnya. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan. Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.


Diet Penyakit Demam Tifoid
Penderita penyakit demam Tifoid selama menjalani perawatan haruslah mengikuti petunjuk diet yang dianjurkan oleh dokter untuk di konsumsi, antara lain :
1.   Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein.
2.   Tidak mengandung banyak serat.
3.   Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
4.   Makanan lunak diberikan selama istirahat.
Pemberian antibiotik adalah satu-satunya terapi efektif untuk demam tifoid dan paratifoid. Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan. Selain pengobatan dengan antibiotika, yang penting adalah tirah baring (tidur terlentang) selama beberapa hari sampai demam mereda. Bila penderita banyak bergerak, suhu badan akan naik lagi karena kuman terlepas dari tempat perkembangannya di usus masuk ke dalam darah. Pergerakan banyak juga menimbulkan risiko usus pecah pada minggu ke 3 - 4. Dengan perawatan dan obat, demam baru akan turun dalam 4 - 8 hari. Bila panas sudah turun dalam 1 - 2 hari setelah pengobatan, kemungkinan bukan demam tifoid.
Terapi lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi gejala adalah :
·         intake cairan untuk mencegah dehidrasi akibat demam tinggi dan diare
·         pengaturan makan tinggi kalori untuk mengganti kalori yang hilang akibat sakit, berupa nasi agak lembek. Daging, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, sedikit sayur, dan buah boleh dikonsumsi. Hindari makanan yang pedas dan keras.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN


Saudara X (25 tahun) dirawat di bangsal Dahlia RSMS dengan keluhan utama panas selama 5 hari. Menurut keterangan keluarga, klien sering mengigau dan berbicara tidak jelas. Klien nampak lemah, tidak mau makan, klien tidur terus dan hanya bangun untuk minum. Dari pemeriksaan fisik didapatkan TD: 110/80 mmHg, Nadi: 112x/menit, pernafasan: 20x/menit, suhu: 39°C, wajah terlihat kemerahan, kulit teraba panas. Klien tampak kurus, TB: 170 cm, BB: 50 kg, konjungtiva anemis. Klien mengatakan tidak selera makan dan lidah terasa pahit. Dokter menegakkan diagnosis medis thypoid pada saudara X. Anda adalah perawat yang merawat saudara X, tegakkan diagnose keperawatan dan rencanan keperawatan pada saudara X.

a.         Pengkajian Fokus
Pengkajian fokus merupakan pemilihan data spesifik yang ditentukan oleh perawat, klien, dan keluarga berdasarkan kondisi klien. Dalam kasus diatas didapatkan data subjektif dan objektif dari keadaan klien, yaitu:
a)      Data Subjektif
Ø  Menurut keterangan keluarga, klien sering mengigau dan berbicara tidak jelas
Ø  Klien mengatakan tidak selera makan dan lidah terasa pahit
b)      Data Objektif
Ø  Klien nampak lemah, tidak mau makan, klien tidur terus dan hanya bangun untuk minum
Ø  TD : 110/80 mmHg, Nadi : 112x/menit, pernafasan : 20x/menit, suhu : 39°C, TB : 170 cm, BB : 50 kg, konjungtiva anemis
Ø  Klien tampak kurus, wajah terlihat kemerahan, kulit teraba panas



b.      Analisa Data

·         Hypertermia b/d peningkatan metabolisme tubuh, proses inflamasi dan peradangan
·         Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakadekuatan absorbsi
·         Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
·         Risiko infeksi b/d adanya tindakan invasive
·         Gangguan pola tidur b/d peningkatan suhu tubuh


c.       Diagnosa Keperawatan
DO/DS
Problem
Etiology
DO
Ø  Klien nampak lemah, tidak mau makan, klien tidur terus dan hanya bangun untuk minum
Ø  TD : 110/80 mmHg, Nadi : 112x/menit, pernafasan : 20x/menit, suhu : 39°C, TB : 170 cm, BB : 50 kg, konjungtiva anemis
Ø  Klien tampak kurus, wajah terlihat kemerahan, kulit teraba panas

DS
Ø  Menurut keterangan keluarga, klien sering mengigau dan berbicara tidak jelas
Ø  Klien mengatakan tidak selera makan dan lidah terasa pahit

a.    Hypertermia
b.   Intoleransi aktivitas
a. Peningkatan metabolisme tubuh, proses inflamasi dan peradangan
b.Kelemahan




C.    Perencanaan Keperawatan

1.   Hypertermia b/d peningkatan metabolisme tubuh, proses inflamasi dan peradangan
Tujuan: hipertermia teratasi
Kriteria hasil: tekanan darah, suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal
Intervensinya:
Monitoring tekanan darah, suhu, nadi, pernafasan selama 6 jam sekali, monitoring warna kulit, mempertahankan jalan nafas pasien, mengatur suhu ruangan,

2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakadekuatan absorbs
Tujuan Nutrisi kebutuhan tubuh terpenuhi
Kriteria hasil:
Nafsu makan meningkat, berat badan ideal/stabil,
Intervensi:
Mengkaji makanan yang disukai atau tidak disuaki pasien, menurut budayanya, menganjurkan makanan yang diperbolehkan, memonitor dan mengontrol asupan nutrisi dan kalori, memastikan makanan yang diperbolehkan, memberikan asupan nutrisi dengan memasang infuse,


3.   Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
Tujuan : kebutuhan pribadi terpenuhi
Kriteria : pasien dapat  memenuhi kebutuhan pribadi secara mendiri
Intevensi :
Berkolaborasi dengan ahli terapi fisik untuk menentukan rencana dan monitoring terapi yang dilakukan, menganjurkan pasien untuk meningkatkan frekuensi aktivitas yang dilakukan, melatih pasien untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri,

4.   Risiko infeksi b/d adanya tindakan invasive
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria : bebas dari tanda-tanda infeksi, bakteri,dan tidak terjadi endema,
     Intervensi :
     Memeriksa tanda-tanda vital (TD, RR, Nadi, Suhu), menjaga asupan makanan pasien, melakukan pemeriksaan fisik (palpasi, perkusi, auskultasi), memberikan obat antibiotik sesuai anjuran dokter.

5.   Gangguan pola tidur b/d peningkatan suhu tubuh
Tujuan : pola tidur teratur
Kriteria : privasi pasien terjaga, mengatur suhu ruangan,
Intervensi :
Kaji pola tidur klien apakah ada gangguan tidur atau tidak, kaji status kesehatan klien,  kaji pola tidur klien, jaga privasi pasien saat tidur, atur pola tidur,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar